085224542593

085224542593
Find kotagedesilver on Facebook   Follow kotagedesilver on Twitter

Artikel tentang perak / silver

    Kotagede - Kota Tua Penuh Asa


    Posted : 05 September 2010
    Oleh : Elanto Wijoyono
    Dilihat 14,459 kali
    Tags : Kota Gede | Kotagede | Kotagedhe | yogyakarta

    Menjejakkan kaki ke Kotagede berarti siap menyaksikan geliat sebuah kota tua yang tak pernah lekang dan menyerah menempuh masa. Lima ratus tahun sudah kawasan kota tua ini mewujud sebagai sebuah permukiman, yang diawali dari pendirian Kedaton Dalem Kerajaan Mataram Islam oleh Ki Ageng Pemanahan di paruh akhir abad XVI M. Pembangunan itu mensyaratkan didirikannya pula kelompok-kelompok permukiman di sekelilingnya yang berperan melayani keraton, dalam bentuk kampung-kampung abdi dalem dan masyarakat berketerampilan tertentu.

    Namun, tak berapa lama kemudian, di masa pemerintahan Sultan Agung di perempat awal abad berikutnya, sebuah keraton baru di Kerta disiapkan, dan beberapa fungsinya dari Kotagede dipindahkan ke sana. Bahkan, pada tengah abad XVII, Amangkurat I yang saat itu bertahta telah berdiam di Kedaton Plered yang kemudian pun terpaksa ditinggalkan pascapemberontakan Trunojoyo. Namun, Kotagede tak lantas mati.
     
     

    Kotagede dari masa ke masa tetap muncul dengan ciri perkotaannya, sementara Kerta dan Plered telah berubah menjadi kawasan pedesaan. Keberadaan makam agung kerajaan Mataram Islam yang ada di Kotagede tampaknya menjadi penyebab Kotagede tetap hidup. Bahkan, semakin berkembang ketika memasuki abad XIX M, sehingga dikenal sebagai kota para saudagar kaya. Sebagian besar dari mereka adalah saudagar perhiasan dan batik.

    Memasuki abad XX M, pemikiran-pemikiran pembaharu, seperti Muhammadiyah, juga masuk ke tanah leluhur yang kental dengan tradisi lamanya. Beberapa perbedaan prinsip sosial dan keagamaan pun sedikit banyak menyebabkan dinamika perkehidupan masyarakat Kotagede. Kantung-kantung permukiman santri meluas, melampaui permukiman para abdi dalem yang jumlahnya tak seberapa. Semuanya itu berbaur dalam rapatnya labirin kota tua yang asri itu.

    Bukannya tanpa gejolak, Kotagede dari sisi sosial budaya memang cukup menarik. Ketika gerak geliat partai komunis merajalela, Kotagede menjadi salah satu basis yang memiliki banyak massa. Namun begitu, usai gerakan tersebut meredup, nuansa ke-Islam-an Kotagede kembali menguat.

    Dari sisi fisik dan non-fisik, Kotagede sendiri mulai cepat berubah baru pada dua dasawarsa terakhir dengan giatnya pembangunan dan interaksi warganya dengan dunia luar. Pewarisan budaya tradisi dan pengetahuan lokal semakin surut, ketika para pemudanya makin banyak yang menaruh perhatian ke ranah lain di luar Kotagede. Pun begitu rumah-rumah tradisional Jawa yang dikandungnya, bisa dengan mudah terangkut ke luar Kotagede, ketika pemiliknya butuh uang. Praktik ini semakin gencar terjadi pascagempabumi yang mengguncang pada tanggal 27 Mei 2006 lalu. Sementara, di sisi lain, cukup banyak pihak pula yang menginginkan potensi budaya Kotagede yang unik ini dikemas untuk kemudian "dijual" sebagai industri pariwisata. Namun, cara yang muncul berbeda-beda tampaknya. Ada yang ulet coba mempertahankan wujud adanya, ada pula yang berupaya menampilkannya dalam wajah yang lebih baru.

    Dinamika dan dialog dari masa ke masa yang tak pernah berhenti itu terjadi di Kotagede ratusan tahun lamanya. Menarik memang mengikuti jejak-jejak upaya pelestarian yang mewujud di Kotagede. Tak hanya yang terjadi di masa kini, tetapi juga upaya-upaya pelestarian yang terjadi pada masa lalu. Lebih dalam, tak hanya pelestarian hal berwujud/fisik saja, tetapi juga hal non-fisik seperti pengetahuan dan berbagai keyakinan serta ideologi, yang berbeturan dalam ruang-ruang dialog masyarakat Jawa. Belajar dari itu semua, banyak hal yang bisa dipetik utamanya dalam menyikapi perbedaan dan keragaman, baik yang muncul dalam masa yang sama maupun yang muncul seolah akan saling menggantikan dari masa yang berbeda.
     

     

    Jelajah pusaka di Kotagede hari Minggu (21/09) sore kemarin berhasil merekam sedikit jejak tersebut ke dalam sebuah peta hijau. Peta Hijau Kotagede yang memuat isu konservasi (pelestarian) ini akan menjadi pemicu diskusi-diskusi lebih lanjut yang akan diperkaya bersama siapa saja yang menaruh minat padanya. Pada sisi praktis, peta hijau konservasi ini bisa digunakan sebagai peta panduan jelajah pusaka; sebuah paket wisata pendidikan yang jelas sangat bernilai. Pada sisi yang lebih substansial, peta hijau ini akan membantu membangun pemahaman atas situasi terkini wajah luar dalam Kotagede, baik bagi teman-teman pegiat pelestarian pusaka warga Kotagede sendiri maupun bagi siapa saja yang peduli dengan pelestarian pusaka dan pengetahuan. Secara bertahap, berbagai paket jelajah yang selama ini giat dikelola oleh teman-teman di Yayasan Kanthil Kotagede akan dapat semakin memperluas cakupan wilayah dan gagasan tema yang bisa dipetahijaukan di kota tua yang penuh asa ini, Kotagede.

    Topik terkait :
    Investasi dalam Perhiasan Perak
    Belajar Membuat Perhiasan Perak
    Meneladani Karya Para Pengrajin Kotagede
    Kerajinan Perak di Indonesia
    Kotagede Kota Tua Sekaligus Sentra Kerajinan Perak
    Studio 76 - Belajar Kerajinan Perak
    Ingat Perak - Ingat Kota Gede
    Kerajinan Perak Kendari yang Hampir Punah
    Perlunya Regenerasi Pengrajin Perak Kotagede
    Kota Gede Yogyakarta, Sentra Pengrajin Perak
    Kerajinan Perak Kotagede Pikat Turis Manca Negara
    Perajin Perak Kotagede Terkendala Pemasaran

    Lihat semua artikel    


    Share
    Facebook
    Tulis komentar Anda..

    Disclaimer : Komentar yang mengandung SARA, kata kotor, cacian dan sebagainya akan dihapus oleh kami tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, terima kasih.

Kiriman Terakhir  

  •   No. Resi JOGAA10398471417 - Agustia (Batam) - Miniatur Borobudur 16cm Silver 925
  •   No. Resi 030065120499 - Wiliiam (Jakarta) - Miniatur Kapal Layar Silver
  •   No. Resi 030065119191 - Wiliiam (Jakarta) - Helm Ukir Silver
  •   No. Resi 030062461184 - Diman (Karimun - Kepri) - Miniatur Elepant Silver
  •   No. Resi 030058961944 - ST Noercahayati (Tasilmalaya) - Bros Silver Bintang Laut
  •   No. Resi 030058986147 - Meyvica (Jakarta Barat) - Miniatur Ikan Koi + Tulisan
  •   No. Resi 030052819489 - Ratih (Bandung) - Bros Silver Plated + Gelang Silver
  •   No. Resi 030052820532 - Ati Rajawetan (Bekasi) - Miniatur Kapal Layar Silver
  •   No. Resi 030052801737 ONS - EKA (Jakarta) - PIN Universitas Silver
  •   No. Resi 030052802209 ONS - FITRI (Bekasi) - Miniatur Kapal Layar
  •   No. Resi JOGAA08433502516 - Fanni - Miniatur Silver Ikan Koi
  •   No. Resi ONS 030037033180 - Yoga - Bandar Lampung - Gelang dan Liontin Silver 925
  •   No. Resi JOGAA08127631716 - Prabowo - Jakarta - Liontin Kuku Macan Silver
  •   No. Resi 030037003940 - Mungki K - Helm Ukir Silver
  •   No. Resi 030037020702 - Prabowo - Liontin Taring Macan Silver
  •   No. Resi 030018999529 - Regina L Chandra - Pisau surat silver
  •   No. Resi JOGAA05706740315 - Priscilla Tjokro - Bros Bunga Custom + Kancing Bintang
  •   No. Resi LION 990-31268694 - Erwin - Helm Ukir
  •   No. Resi 020142015128 - Diah Ayu - Sample Awal Pisau Surat Kapal
  •   No. Resi 020145663628 - Diah Ayu - Invoice & Sample Pisau surat
  •   No. Resi 020144829199 - Dani - Helm Ukir Mandor
  •   No. Resi JOGAA00715741912 - Mochtar Arief - Bros perak
  •   No. Resi JOGAA00715751712 - Yayas (Jakarta) - Helm Ukir Silver
  •   No. Resi 020132411376 - Susan (Jakarta) - 2 pcs Patung Ki Hajar Dewantara
  •   No. Resi 020132411892 - - Custom: Kotak Musik lapis emas
  •   No. Resi 020132416295 - Fitri (jakarta) - Kalung + custom liontin

Lihat semua pengiriman >>